Kenapa Harus Baca Novel Berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna


Pembukaan

Sebelum saya merangkum novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, izinkan saya sedikit bercerita tentang bagaimana buku ini akhirnya sampai ke tangan saya.

Saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan retail yang memproduksi meja dan rak untuk Indomaret dan Alfamart. Di sana, saya memiliki seorang rekan kerja bernama Refal. Suatu hari, saya bercanda kepadanya bahwa saya suka membaca buku, padahal sebenarnya tidak terlalu. Entah mengapa, ia justru menyarankan sebuah novel berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.

Beberapa minggu setelah obrolan itu, saya harus keluar dari perusahaan tersebut karena alasan yang tidak bisa saya ceritakan di sini.

Waktu berlalu. Suatu hari saya dan kekasih saya pergi jalan-jalan ke sebuah mall di daerah Depok. Seperti kebiasaan saya setiap ke mall, saya selalu menyempatkan diri mampir ke Gramedia, meski hanya untuk melihat-lihat. Di sana, saya sempat berkata ingin mencari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Kami mencarinya, namun tidak menemukannya. Baru ketika kami berjalan keluar, kami melihat buku itu terpajang di balik kaca etalase. Sayangnya, saat itu kami hanya lewat begitu saja tanpa membelinya.

Beberapa minggu kemudian, tanpa saya sangka, kekasih saya membelikan novel tersebut. Saya kaget, sekaligus senang. Terima kasih, kekasihku—karena buku ini, saya kembali jatuh cinta pada membaca dan mulai membeli novel-novel lainnya.



Ringkasan Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Ale, seorang pekerja kantoran yang sudah cukup senior dan mapan. Namun di balik kehidupannya yang terlihat “baik-baik saja”, Ale menyimpan kelelahan batin yang sangat dalam.

Di tempat kerja, ia sering mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari rekan-rekannya. Ibunya pun terasa kurang memberi perhatian. Teman-temannya tidak benar-benar menghargainya. Ditambah lagi, tidak ada perempuan yang ingin menjadi pasangannya karena kekurangan fisik yang ia miliki. Jika dipikir-pikir, penderitaan Ale terasa begitu lengkap.

Satu-satunya hal yang masih bisa ia syukuri adalah pekerjaannya yang sebenarnya cukup nyaman. Namun, seperti yang kita tahu, lingkungan yang tidak sehat akan membuat pekerjaan senyaman apa pun terasa melelahkan.

Ale mengalami gangguan tidur yang parah. Ia terbiasa mengonsumsi pil tidur karena pikirannya tak pernah berhenti bergemuruh. Hingga suatu titik, ia merasa tidak sanggup lagi menjalani hidup dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun sebelum melakukannya, Ale ingin menikmati makanan favoritnya untuk terakhir kali: semangkuk mie ayam di depan apartemennya.

Pagi itu, saat ia berniat membeli mie ayam tersebut, warungnya justru tutup. Ale merasa kecewa dan mulai berpikir, apakah ini cara Tuhan menggagalkan rencananya? Meski begitu, Ale tetap berusaha mencari tahu alasan di balik tutupnya warung mie ayam tersebut.

Singkat cerita, Ale mengetahui bahwa penjual mie ayam telah meninggal dunia. Di sana, ia bertemu dengan anak dari penjual mie ayam tersebut, yang berjanji akan membuatkan mie ayam setelah selesai mengurus pemakaman ayahnya.

Saat menunggu di depan warung sambil merokok, Ale tanpa sengaja menemukan sesuatu yang menyeretnya ke dalam masalah hukum, hingga akhirnya ia harus mendekam di penjara.

Di penjara inilah hidup Ale mulai berubah.

Ia bertemu dengan seorang preman yang menguasai wilayah tersebut. Dari sosok inilah Ale belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang keberanian, kepercayaan diri, dan bagaimana tidak lagi peduli pada penilaian orang lain. Bahkan, Ale menyadari bahwa kekurangan yang selama ini ia benci ternyata bisa menjadi kelebihan yang bermanfaat bagi orang lain.

Pada akhirnya, Ale benar-benar menikmati seporsi mie ayam yang ia tunggu-tunggu. Namun kali ini, bukan sebagai hidangan terakhir sebelum mati, melainkan sebagai simbol semangat baru untuk menjalani hidup.


Penutup

Dari buku ini, saya belajar bahwa seberat apa pun hidup yang kita jalani, sesedih apa pun keadaan yang kita hadapi, dan sebanyak apa pun orang yang meremehkan kita, kita tetap harus memilih untuk berbuat baik.

Kita tidak pernah tahu, kebaikan kecil yang kita anggap sepele bisa menjadi hal yang sangat berarti bagi orang lain.

Buku ini juga mengajarkan saya untuk selalu berprasangka baik kepada siapa pun, entah itu preman, pelacur, pemulung, penyandang disabilitas, atau siapa saja. Mereka tetap manusia, yang layak diperlakukan sebagai manusia. Mereka memiliki perasaan, harapan, dan keinginan untuk hidup normal. Sering kali, keadaanlah yang memaksa mereka berada di posisi tersebut.

Maka, jangan pernah memandang orang lain dengan hina. Lihatlah mereka sebagai sesama manusia.

Sekian tulisan dari saya. Semoga bermanfaat. 😊







Komentar