Belajar Tentang Rezeki dari Sebuah Telur Goreng

Belajar Tentang Rezeki dari Sebuah Telur Goreng

Siang itu, saya menggoreng telur seperti biasa. Namun ada satu hal kecil yang saya lakukan berbeda: saya membersihkan wajan terlebih dahulu. Bukan sekadar membilas, tapi benar-benar memastikan tidak ada sisa hitam, minyak lama, atau kerak yang menempel.

Hasilnya sederhana tapi mengejutkan, telur gorengnya terlihat rapi, bersih, dan menggugah selera.

Padahal, sebelumnya saya sering memasak telur dengan wajan yang “asal pakai”. Akibatnya selalu sama: telur menjadi hitam, gosong, dan tampilannya jauh dari kata indah. Telurnya sama, apinya sama. Yang berbeda hanya satu hal: wadahnya.

Dari dapur kecil itu, saya belajar sesuatu yang lebih besar tentang hidup.

Bisa jadi Tuhan sudah menyiapkan rezeki untuk kita. Kesempatan sudah ada, jalan sudah dibuka. Namun wadah untuk mengolah rezeki itu hati kita masih kotor. Penuh dengki, iri, prasangka buruk, keluhan pada takdir, dan pikiran negatif yang tidak pernah dibersihkan.

Bagaimana mungkin hasilnya baik, jika tempat mengolahnya saja tidak layak?

Mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak, lalu membersihkan “wajan” hati kita. Mengganti rasa iri dengan syukur. Mengganti prasangka dengan kebaikan. Mengganti keluhan dengan senyuman. Mengganti ketakutan dengan optimisme tentang masa depan.

Karena sering kali, bukan rezekinya yang buruk.
Bukan juga kesempatannya yang salah.

Seperti telur goreng itu
ia tidak gosong karena telurnya,
melainkan karena wajannya kotor dan apinya terlalu besar.




Komentar